Selasa, 13 April 2010

casino royale

Bond tanpa Perangkat James Bond


Judul: QUANTUM OF SOLACE
Sutradara: Marc Foster
Skenario: Paul Haggis, Joshue Zetumer, Neil Purvis, Robert Wade
Pemain: Daniel Craig, Judi Dench, Mathieu Amalric, Olga Kurylenko



DI dunia James Bond versi Daniel Craig, persoalannya bukan lagi apakah segelas martini harus dikocok atau diaduk. Setelah melalui berbagai tafsir Bond yang tampan dan kenes, Craig memberikan sebuah definisi baru tentang seorang agen intelijen yang dingin dan seksi. Yang menantang sekaligus membuat napas berhenti. Segelas martini dan tuksedo itu tak penting lagi. Bond versi Craig boleh tampil sekumel mungkin, dan dia akan tetap menjadi Bond abad ke-21 yang lezat.

Di panggung Daniel Craig, kita tak perlu ribut-ribut soal plot. Yang penting sekarang adalah bagaimana sutradara Marc Foster menyajikan Bond pada abad yang sudah memiliki jagoan baru lain seperti Bourne, atau bahkan serial 24 dan Alias yang memanfaatkan teknologi sinematik yang lebih baru, lebih canggih, dan lebih keren daripada film-film James Bond di masa lalu. Bagaimana dunia yang kini lebih memfokuskan diri pada terorisme dan ancaman senjata kimia bisa diadaptasikan pada kisah Ian Fleming yang di masa lalu berkutat dengan masalah komunisme.

Dalam film Quantum of Solace, Bond menggotong dendamnya ke mana-mana. Dari pengkhianatan wanita yang dicintainya, Vesper Lynd (dalam film Casino Royale), Bond berniat mencari kebenaran di balik tingkah Vesper yang mencuri uang hasil kasino yang dimenangi Bond.

Dendam dan keinginan melindungi M (Judi Dench)—bos agen intelijen terbesar di Inggris yang dingin, tegas tetapi toh protektif pada Bond seperti seorang ibu.

Kali ini, Bond menjelajah tanpa fasi-litas apa pun. Korban berjatuhan dan ternyata salah satunya adalah ”orang dalam”. M menahan segala fasilitas kartu kredit dan kemewahan. Bond berkelana seadanya, tak ada pernik teknologi, tak ada mobil terbang atau mobil yang menyodok laut. Kali ini dia mengejar, membunuh, menghajar tanpa bantuan pernik dari Q (kenapa dia hilang?); dia cuma bergumul dengan seorang perempuan, Strawberry Fields (lha, piye?) dan cukup elegan ”hanya” mencium si cantik Camille Montes (Olga Kurylenko) pada akhir film.

Syahdan, James Bond mencari biang kerok dari segala peristiwa hitam yang membuat wanita yang dicintainya mengkhianatinya dan tewas dalam Casino Royale. Untuk mendapatkan sang biang kerok, Bond harus mencari Dominic Greene (Mathieu Amalric), seorang pendiri sebuah organisasi kriminal berkedok pembela lingkungan bernama Quantum. Bond menyeberang ke Austria, Italia, dan Amerika Selatan. Dengan bantuan Rene Mathis (Giancarlo Giannini), Bond memburu Greene, yang sudah siap menjungkalkan Camille dari lantai atas sebuah gedung tua. Saat itu Greene tengah berupaya memanipulasi Jenderal Medrano dari Bolivia untuk menukar sebidang tanah—yang menjadi sumber utama suplai air—dengan janji bahwa dia akan mampu mengerahkan koneksinya untuk menjungkalkan rezim Bolivia saat itu.

Transaksi ini kemudian terganggu oleh kehadiran Bond dan Camille—yang punya dendam pribadi terhadap sang jenderal. Di tengah gempuran api yang menjilat hotel di tengah padang pasir itu, Bond berkelahi dengan Greene, sementara Camille menerjang sang jenderal yang gemar memerkosa.

Mungkin sutradara Marc Foster (sebelumnya lebih sering membuat film drama seperti Finding Neverland, Monster’s Ball, dan The Kite Runner) ingin menunjukkan sesuatu yang berbeda. Yang pertama dia lakukan adalah meruntuhkan seluruh karakteristik Bond. Minuman martini kegemaran Bond yang selalu disertai ucapan kepada bartender ”shaken, not stirred” sudah dirontokkan dalam Casino Royale dengan ucapan Bond yang ketus: ”memangnya aku peduli?”

Lantas sekarang kita melihat Bond, seperti juga jagoan lainnya seperti Bourne atau Jack Bauer yang mampu berkelahi dengan tangan kosong, tanpa bantuan pernak-pernik mewah dan kinclong buatan Q. Tanpa pernik, Bond jadi terasa aneh dan tidak istimewa; tapi mungkin dia jadi lebih jantan. Tambah lagi, cewek-cewek Bond tak lagi tampil sebagai aksesori. Camille Montes, yang sayangnya diperankan dengan buruk oleh Olga Kurylenko, memiliki sejarah hitam dengan Jenderal, dan mendampingi Bond sebagai pasangan penuh dendam. Sepanjang film, Olga hanya tampil dengan satu macam ekspresi: cemberut seperti gadis remaja ngambek. Benarkah dia dipilih di antara 7.000 peserta audisi? Seriously! Dia adalah satu dari sekian Bond girls yang tampil paling buruk sepanjang sejarah (setelah Grace Jones).

Sosok M kini lebih seperti seorang ibu yang khawatir terhadap tingkah laku Bond yang dianggap di luar akal sehat. Tetapi lihatlah adegan M memberikan instruksi melalui telepon, sembari membersihkan wajah dengan lotion, bak seorang pembunuh tengah membersihkan ”kutu-kutu” dengan sekali usap. Itu bukan gerak seorang ibu, melainkan seorang pembunuh yang dingin.

Mereka yang telanjur jatuh cinta pada ciri khas Bond ala Ian Fleming memang harus mengucapkan selamat tinggal. Bond sekarang milik Hollywood dan dunia, sehingga ia menjadi suatu karya pop ”klasik” yang bebas ditafsirkan oleh pemain dan sineasnya.

Kali ini Foster juga ingin memasukkan rasa ”seni” dalam Bond. Adegan intercut antara sebuah opera akbar Tosca di Danau Constance di Austria dan adegan kejar-mengejar dengan rombongan Dominic Greene berakhir dengan sebuah adegan slow motion tanpa suara di antara lontaran peluru ke seluruh penjuru itu: dahsyat! Memang ini tidak orisinal, karena film The Godfather 3 juga sudah melakukannya: art imitates life.

Sementara dua tahun lalu film Casino Royale (sutradara: Martin Campbell) berhasil mengguncang dunia, kini Quantum of Solace ternyata menjungkirbalikkan definisi Bond yang telanjur kita kenal. Lalu siapakah gerangan agen berwajah ganteng, seksi, dingin, yang tak peduli dengan minumannya (apakah dikocok atau diaduk) dan tak lagi gemar meniduri banyak perempuan? Masihkah dia bernama ”Bond. James Bond”?

film heelboy the golden army

Hikayat Dua Pangeran


Judul: HELLBOY II: THE GOLDEN ARMY
Sutradara: Guillermo del Toro
Skenario: Guillermo del Toro, Mike Mignola
Pemain: Ron Perlman, Selma Blair, Doug Jones, Luke Goss, Anna Walton



WAJAHNYA keras dan perawakannya tinggi besar, menunjukkan bahwa makhluk berkulit merah itu lebih biasa mengandalkan otot daripada benaknya. Kebiasaannya mengisap cerutu dan mengunyah permen. Komentar makhluk dari neraka itu sering membuat merah telinga lawan bicaranya. Dialah Hellboy, anggota Bureau for Paranormal Research and Defense.

Ketika beraksi melindungi umat manusia, tokoh yang diperankan Ron Perlman itu acap kali bertindak ceroboh lagi sembrono. Contohnya, ia menghamburkan peluru yang selongsongnya seukuran kepalan orang dewasa untuk membinasakan makhluk sebesar burung gereja.

Bertolak belakang dengan tokoh utama dalam film ini, Abraham Sapien mengandalkan daya pikir yang tajam dan wawasan yang luas dalam menjalankan tugas. Abe—panggilan akrab Sapien—seorang kutu buku yang bernapas dengan insang. Ia doyan mendengarkan alunan musik klasik dari dalam akuarium. Abe, yang diperankan Doug Jones, juga memiliki kemampuan mempelajari kondisi sekitar hanya dengan membuka lebar-lebar telapak tangannya.

Dalam bertugas, Hellboy dan Abe ditemani tokoh ketiga: perempuan pengendali api bernama Elizabeth Sherman. Liz—panggilan Elizabeth—adalah kekasih Hellboy. Sayang, walaupun dicintai Hellboy, ia sering diperlakukan seenaknya oleh Hellboy.

Kalau Anda pembaca setia komik Hellboy, mungkin Anda akan terganggu dengan kisah asmara antara Hellboy dan Liz. Seperti yang kita tahu, Hollywood tak segan-segan memaksakan resep yang memang terbukti ampuh, apa lagi kalau bukan kisah cinta. Mungkin Anda akan semakin mengernyitkan dahi kalau Anda tahu bahwa… ah, sudahlah, lebih baik tak usah dituliskan di sini.

Mereka bertiga merupakan tim canggung yang acap kali mengacaukan tugas yang diberikan. Akibatnya, mereka terpaksa diawasi oleh Johann Krauss, seorang penyelia berbentuk roh yang menghuni kostum mirip penyelam.

Dalam film yang tak diangkat dari salah satu cerita dalam serial komik Hellboy ini, kuartet itu menyelidiki pembantaian di sebuah rumah lelang. Dari bukti yang dikumpulkan, pembantaian itu ternyata didalangi anggota kerajaan elf. Setelah ditelusuri lebih jauh, Hellboy dan timnya bertemu dengan Pangeran Nuada si Lembing Perak, dan jelaslah semuanya: elf bertanggung jawab atas pembantaian tadi.

Akibat kesembronoan Hellboy, bentrokan dengan Nuada tak terhindarkan. Nuada mengerahkan troll pengawalnya dan seorang elemental penjaga hutan.

Dalam bentrokan ini, sang Pangeran kemudian mengenali Hellboy sebagai Anung-un-Rama si Binatang Malapetaka. Setelah mengenali siapa sesungguhnya Hellboy, sang Pangeran mengajak Hellboy bergabung untuk menghancurkan umat manusia.

Apa jawaban Hellboy? Bagaimana cara Nuada menghancurkan umat manusia? Anda boleh mencari jawabannya dengan menonton film ini di bioskop.

Dari komentar penonton, sekuel Hellboy ini memang lebih mudah dimengerti jalan ceritanya dan lebih menghibur dibanding pendahulunya. Mungkin karena Mike Mignola, pengarang Hellboy, mengalah demi memenuhi selera penonton yang terbiasa dengan penyajian ala Hollywood.